Pelajaran dari Si Padi Hijau


Seperti seruling kecil yang bisa menghanyutkan bagi siapa yang mendengarkannya. Sungguh luar biasa ketika aku melihat tumbuhan yang amat bermanfaat itu, di tengah hamparan hijau dengan balutan suasana damai. Dia tumbuh dengan ikhlas tanpa meminta imbalan sama sekali. Ketika aku bertanya, "kenapa kau mau tumbuh dengan baik???, padahal setelah kau tua (matang) nanti tubuhmu akan dipotong tanpa belas kasihan, dihempas di atas tanah merah, dan dibuang bagai sampah.
Kenapa kau tetap kokoh sedangkan manusia sama sekali tidak menghargaimu????

Padahal, tanpa kau manusia tak akan bisa makan. Mereka akan kelaparan.
Kau tau keserakahan mereka??, mereka hanya ingin biji kecilmu, yang telah kau simpan di tempat yang paling nyaman, kau lindungi dari dinginnya malam dan panasnya siang, dan kau jaga hingga tua.Tegakah kau melepaskannya begitu saja hanya untuk diberikan kepada mereka yang tak pernah bersyukur, mereka yang tak pernah tau apa arti pengorbanan itu. Pernahkah mereka berterima kasih padamu??. Masih sudikah kau tumbuh untuk mereka???"

Padi itu hanya menampakkah keelokannya dengan hembusan angin yang setia menemaninya.

dan Padi pun menjawab,
 "aku tak pernah merasa tersakiti sekali pun, padahal sebenarnya sakit. Aku pun tak pernah merasa kecewa,  namun sebenarnya rasa itu ada. Aku hanya ingin menjalani kodrat hidupku dengan jalan yang terbaik yang diberikan Tuhan untukku sebelum kesempatan, waktu, dan saat itu hilang. Aku melakukannya hanya untuk Dia. Aku takut dengan pedih siksa-Nya. Aku ikhlas melakukannya, selagi hidup belum terambil masa, sewaktu sebelum malaikat maut menjemputku, sebelum Tuhan memutus kisah hidupku.
Aku hanya ingin mengabdi pada-Nya, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya.
Dengan tumbuh, aku berdzikir mengatas namakan Dia. Allah Ta'ala. di atas segalanya.
Tak pernah ku sesali hidupku, karena aku diciptakan oleh-Nya dengan sebaik-baik ciptaan.
Allah, aku bersyukur kau izinkan aku menikmati indahnya bumi ini. Allah, aku bersyukur kau izinkan aku dapat menolong makhluq-Mu (manusia). Aku bersyukur atas Hidup, Kerja keras, Semangat, Kesempatan, Perjuangan, rasa Kecewa, Terluka, tak Dihargai, diSia-siakan, dan Mati.
Tak perduli aku disia-siakan oleh manusia, tak dihargai olehnya, terluka dan tersakiti karena ulahnya, dan merasa kecewa karena sikapnya. Karena aku hanya berharap satu hal : ALLAH MERIDHOI PERJALANAN HIDUPKU."



Aku pun mengerti, betapa sehelai daun padi itu sangat berarti. Aku pun mengerti, betapa nikmatnya hidup ini.
Cukuplah padi itu menjadi cerminan bagi kita. Karena Allah mempunyai seribu rencana untuk kisah makhluq-Nya..


                                                                                                             19 September 2012
                                                                                                                   _alfarghani_

(pelajaran ER.us)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sibiru

Secercah Kata Untuk Mereka